Rayakan Tanpa Sup Hisit

Jumat, 12 Februari 2010 | 04:04 WIB

Agnes Aristiarini

Apalah artinya makan? Bagi bangsa China, makan ternyata bukan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis semata. Ada mitos, gengsi, bahkan simbol kekuasaan dari setiap makanan yang dihidangkan, apalagi bila makanan susah didapat dan mahal. Persis seperti kata filsuf China Konfusius, ”Cara memotong daging menunjukkan cara hidup seseorang.”

Bisa jadi, inilah latar belakang utama mengapa sup sirip ikan hiu—dikenal sebagai sup hisit—begitu sulit ditinggalkan dalam tradisi perayaan China.

Sup hisit memang tumbuh bersama sejarah panjang bangsa China. Muncul tahun 960 pada masa dinasti Sung dan makin membudaya pada dinasti Ming tahun 1368. Sejak itulah, sup hisit menjadi santapan pada upacara pengantin, ulang tahun perkawinan, pesta perusahaan, dan tentu saja perayaan Imlek.

Sean Yap dalam The Man Eating Shark (2008) menulis, sup hisit adalah lambang kesejahteraan, cara untuk menunjukkan mian zi atau wajah. Hal ini karena dalam tradisi China pihak pengantin laki-lakilah yang membiayai pesta perkawinan. Tanpa sup hisit, keluarga pengantin pria berarti tidak memberikan ”wajah” (penghargaan) pada keluarga pengantin perempuan dan para undangan.

Orang China juga punya perumpamaan ”Nian nian you yu”, artinya kemakmuran sepanjang tahun. Yu, yang artinya berlimpah, dibaca dengan nada sama dengan yu yang berarti ikan. Maka, seperti ditulis MA Shumin dalam Shark Fin Soup: A Cultural & Environmental Conflict (2008), ikan selalu dihidangkan dalam perayaan tahun baru agar datang kemakmuran.

Ketika jumlah dan kesejahteraan manusia belum meningkat, kebutuhan akan sirip hiu tentu tidak berdampak besar terhadap populasi hiu di samudra. Namun, dengan peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan pencitraan produk yang luar biasa sepanjang 15 tahun terakhir, keberadaan hiu terancam karena permintaan terus meningkat.

Menurut organisasi lingkungan WildAid, pertumbuhan perdagangan sirip hiu mencapai 5 persen per tahun di Hongkong, tempat perdagangan 50 persen sirip hiu dunia. Meskipun harganya bisa mencapai 700 dollar Amerika Serikat (Rp 6,3 juta) per kilogram di Hongkong, sup hisit selalu ada dalam menu restoran-restoran China besar di seluruh dunia. Yang menyantap bukan hanya orang China, melainkan dari berbagai bangsa.

Survei yang dilakukan WildAid dan The Chinese Wildlife Conservation Association tahun 2006 di China menunjukkan, 35 persen dari responden mengonsumsi sup hisit tahun sebelumnya. Namun, hanya sedikit yang tahu bagaimana cara sirip hiu itu sampai ke mangkuk mereka.

Cara yang kejam

Dalam film dokumenter tayangan National Geographic Channel, praktik pengambilan sirip hiu sungguh mengerikan. Hiu yang tertangkap langsung dipotong hidup-hidup seluruh siripnya lalu dibuang kembali ke samudra. Hiu yang tidak bisa lagi berenang tenggelam ke dasar, kehabisan darah dan mati perlahan-lahan.

”Cara itu tidak hanya kejam, tetapi juga pemborosan. Bayangkan, 95 persen badan hiu itu dibuang,” kata Peter Knights, Direktur Eksekutif WildAid, seperti dikutip ABC News.

Daging hiu memang tidak seenak ikan tuna, marlin, atau salmon. Karena harganya murah, nelayan malas menyimpan karkas hiu yang besar, sementara sirip yang mahal hanya membutuhkan tempat sedikit. Sirip juga mudah dikeringkan dan disimpan berbulan-bulan.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan, lebih dari 100 juta hiu ditangkap setiap tahun dan 38 juta di antaranya mati karena diambil siripnya. Bangkainya berserakan di kawasan penangkapan hiu, seperti perairan Kepulauan Galapagos, Kosta Rika, Ekuador, dan Meksiko.

Gara-gara itu pula populasi hiu menurun sedikitnya 80 persen selama 50 tahun terakhir. Tanpa intervensi, beberapa spesies akan punah dekade mendatang. Padahal, hiu adalah salah satu spesies purba yang mampu bertahan hingga sekarang. Salah satu fosil hiu tertua yang ditemukan usianya di atas 400 juta tahun.

Total ada 490 spesies hiu di berbagai perairan dunia dengan ukuran beragam. Yang terkecil panjangnya hanya 15 cm dan yang terbesar mencapai 14 meter.

Meskipun beberapa jenis hiu bisa hidup lebih dari 100 tahun, perkembangbiakannya lambat. Hal ini karena sebagian besar hiu ovovivipar, yaitu telur dibuahi, berkembang, dan menetas dalam tubuh induknya. Usia subur yang rata-rata 25 tahun, masa kehamilan panjang—ada yang mencapai 24 bulan—dan sedikitnya anak-anak yang mampu bertahan membuat populasi hiu jadi tak banyak.

Hiu berperan sebagai predator utama dalam rantai makanan samudra. Bila mereka punah, ikan-ikan kecil dan menengah akan berbiak tanpa kendali sementara sumber makanan terbatas. Pada suatu titik, perebutan makanan akan mengguncang keseimbangan dan matilah ikan kecil dan menengah yang dikonsumsi manusia.

Di luar peran pentingnya dalam rantai makanan, orang sering tidak paham tentang kehidupan hiu, sejarah, perilaku, dan kejamnya cara penangkapan. Mitos-mitos yang salah tentang hiu gara-gara pemberitaan yang sensasional dan film-film, yang hanya mengekspos sisi predatornya, membuat orang takut dan tak peduli pada kelangsungan hidup sang hiu.

Padahal, setajam apa pun gigi hiu dan secepat apa pun kehebatan mereka berenang (rata-rata kecepatan 8 km/jam dan saat mengejar buruan bisa mencapai 50 km/jam), mereka tetap saja kalah dari predator nomor satu dunia, manusia.

Kemajuan teknologi, seperti sonar pencari ikan, satelit penentu lokasi, kapal penangkap ikan modern, dan kapal pengolah ikan yang beroperasi 24 jam, makin membantu manusia menyapu samudra. Tak ada lagi tempat sembunyi, bahkan bagi hiu yang digambarkan ganas dan suka menyerang.

Lindungi hiu

Untunglah masih ada sebagian manusia yang punya kesadaran akan perlunya kehadiran setiap makhluk hidup demi keseimbangan ekosistem. Merekalah yang, melalui organisasi-organisasi pencinta lingkungan, mengampanyekan berbagai upaya perlindungan hiu: dari menghapus praktik pengambilan sirip, mengatur kuota penangkapan, melindungi spesies yang hampir punah, sampai menghapus menu sup hisit dari setiap perayaan dan restoran.

Upaya itu perlahan-lahan membangun kesadaran meski belum meluas. Di Amerika Serikat, misalnya, Kongres tahun 2000 mengeluarkan Shark Finning Prohibition Act yang berlaku di perairan AS dan Pasifik. Isinya, larangan penangkapan hiu untuk diambil siripnya saja dan tidak memperbolehkan kepemilikan sirip hiu tanpa badannya. Pelarangan serupa, bahkan, sudah berlangsung di Teluk Meksiko dan Karibia, 1993.

Koalisi organisasi lingkungan yang terdiri dari International Fund for Animal Welfare, Human Society International, WildAid, dan Defenders of Wildlife, berhasil memasukkan beberapa spesies hiu ke Appendix I dan II CITES, organisasi internasional yang mengatur perdagangan flora dan fauna. Masuk Appendix I berarti sudah terancam punah dan tidak boleh ditangkap untuk kepentingan komersial. Appendix II berarti ada kuota dan pengawasan ketat.

Namun, peraturan sering dilanggar karena lemahnya pengawasan dan masih tingginya permintaan. Karena itu, advokasi konsumen kini jadi strategi utama perlindungan hiu. Setelah dipapar berbagai informasi, 30 persen masyarakat Thailand yang disurvei WildAid, misalnya, tidak mau lagi makan sup hisit.

Mantan Presiden Taiwan Chen Shui Bian, bahkan, mengumumkan tidak menyuguhkan sup hisit pada pesta perkawinan anak perempuannya.

Organisasi lingkungan juga mengajak superstar basket, China Yao Ming, dan artis Jackie Chan mengampanyekan hidup tanpa sup hisit. Video Yao Ming untuk melindungi hiu diharapkan bisa menyamai efektivitas video Yao Ming yang melompat untuk menepis peluru pemburu gajah yang sangat populer di situs web YouTube.

Demikian pula Disneyland Hongkong, yang sejak diprotes pencinta lingkungan, tidak lagi menyuguhkan sup hisit dalam pesta perkawinan di kawasannya mulai 2005. Sup hisit diganti dengan sup lobster yang ternyata tidak kalah lezat.

Di Indonesia sebenarnya sudah banyak keluarga yang mengganti sirip hiu dalam sup hisit dengan daging kepiting. Ikan yang wajib ada pun sudah lama direpresentasikan dengan bandeng yang jauh lebih murah dan sudah dibudidayakan.

Karena itu, pendapat Confusius tentang makan mungkin sudah saatnya diganti dengan pendapat Socrates, ”Orang yang tidak berharga hidup hanya untuk makan dan minum, orang yang berharga hanya makan dan minum untuk hidup.”

Selamat Tahun Baru China 2561. Semoga Anda siap menyambutnya tanpa sup hisit.


21.04






Seorang wanita yang hampir memasuki usia 80 tahun, ditanya teman-temannya apakah beliau akan membuat pesta besar untuk merayakan ulang tahunnya. Dengan penuh senyum ia menjawab bahwa dirinya ingin ‘cari duit’ saja. Maksudnya, dalam rangka ulang tahun,ia akan membuat acara penggalangan dana. Dana yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk membangun gedung laboratorium, asrama untuk anak jalanan atau kegiatan sejenisnya. Dalam usia yang sudah lanjut, beliau masih memikirkan cara membangun dan membuat sesuatu. Saat ditanya apa yang menjadi gregetnya, ia berkomentar,”Sederhana saja. Saya melaksanakan misi suami yang sejak dulu ingin membantu orang miskin, memajukan kesehatan dan pendidikan”. Ternyata kekuatan kehendak suaminya yang sudah meninggal puluhan tahun lalu membuat wanita ini bertujuan dan mampu memaknai hidupnya dengan upaya-upaya positif, berarti dan berguna.
Seorang Psikiater, Victor Frankl, mengemukakan pentingnya menyadari dan menyuarakan ‘purpose of life’ individu. Tidak hanya sekedar untuk diri pribadinya, namun juga pada keluarga, anak, cucu, karyawan, anggota kelompok bahkan rakyatnya. Frankl juga menekankan bahwa manusia punya kebebasan penuh untuk menyikapi situasi yang dihadapinya. Apakah itu kegelapan, tantangan, godaan, kenikmatan, batu besar ataupun kerikil. Pada akhirnya, manusia memang bisa mengisi hidupnya dengan ‘good stuff’ atau ‘bad stuff’ dan menjadikan dirinya pribadi yang terhormat atau tidak terhormat. Saya jadi teringat cerita ayah saya tentang pengalamannya berada di tahanan Belanda. Di sana ada seorang temannya yang punya kebiasaaan berbagi. Apapun makanan yang ditemukan, bahkan telur bebek yang sulit sekali pun, akan di-share dengan seluruh anggota kelompok. Ini membuktikan dalam keadaan sulit dan ‘survival’ sekali pun, seseorang tetap punya pilihan untuk menjadi manusia yang bermutu atau tidak. Tentu saja ini sulit terjadi bila beliau tidak punya ‘misi’ yang membuat dirinya dengan mudah menentukan langkah dan mengambil sikap.
Di zaman modern ini, kita lihat semakin banyak individu berkeyakinan bahwa kebahagiaan datangnya dari kekayaan materi. Banyak orang sudah tidak bisa membedakan halal atau tidaknya mata pencaharian, dibudakkan harta, lupa batas antara kebutuhan dan keserakahan, bahkan tidak peduli membangun karakter pribadi. Buntut-buntutnya, setelah kekayaan di tangan pun, hidup terasa pahit dan tidak berarti. Banyak orang yang sudah ‘punya segalanya’, namun tidak bahagia dan berusaha mencari ketenangan melalui upaya penggalangan kegiatan religius yang tidak berujung. Bagaimana pun , kesibukan dan tantangan yang terus menerus hadir di depan mata, memang bisa membuat kita tidak lagi punya banyak waktu merefleksikan diri. Jika berarti kita ingin hidup kita berarti, tampaknya kita harus memaksa diri untuk diam sejenak, memikirkan kembali, dan memahami dengan jelas apa misi hidup kita.

Power of Missions
Pertanyaannya adalah bisakah seseorang menjalankan hidup tanpa misi yang jelas? Terkadang banyak orang di sekitar kita yang mengambil keputusan tanpa repot-repot pikir panjang mengenai ‘apa yang ingin ia capai’ dalam hidupnya. Banyak di antara kita tidak mendera diri untuk mencari jawaban ‘mengapa’ ia bersikap dalam situasi tertentu. Misalnya saja, orang tua bercerai karena emosi dan marah pada pasangan, tanpa memikirkan nasib putra-putrinya. Dalam situasi ini kita bisa melihat bahwa prioritas untuk membuat putra-putrinya bahagia, aman dan nyaman, tidak menjadi dasar keputusan. Ada seorang pemilik perusahaan yang membawa perusahaannya tumbuh besar, kemudian menjualnya dan meraup keuntungan besar dari proses akuisisi perusahaan. Setelah diakuisisi, ia tidak lagi tampak serius menggarap pengembangan perusahaan dan berhenti berinvestasi. Di sini kita bisa bertanya-tanya, apa misi pemiliknya? Dalam situasi ini, masih bisakah ia mempengaruhi karyawan untuk terus berinovasi? Apakah beliau kemudian bisa menjawab kepentingan kolektif ‘stakeholder’ lainnya?
Dari situasi tadi kita bisa melihat betapa seseorang bisa kehilangan arah dan power jika tidak jelas misi dirinya. Dalam situasi kepemimpinan, para pengikut akan dibuat bingung oleh pemimpin yang tidak jelas kemana tim akan dibawa. Sebaliknya, pimpinan yang memiliki misi mencerdaskan bawahan, bisa bertindak tegas, bahkan keras pada bawahannya yang enggan belajar. Teman saya, seorang pengusaha sukses, berprinsip : ”Pokoknya perusahaan, orang dan industri harus maju terus”. Kedengaran seperti tagline Ganefo jaman Sukarno, “Onward, never Retreat”. Namun, kejelasan misinya itu membuat seluruh karyawan jadi ‘tidak berani’ untuk tidak maju, aktif dan agresif dalam bekerja.

Berisi dengan Misi
Rasanya kita perlu kemabli menyadari bahwa misi lebih sakti daripada sekedar uang. Chris Gardner yang kisah hidupnya diangkat ke layar kaca mengatakan: “Your pursuit determines your happiness ”. Kita sesungguhnya bisa mengecek sendiri, apakah di akhir hidup nanti kita bisa berkata : ”I did what I was created to do. I contibute to this world in a significant manner.”
Setiap kali tindakan kita mengarah kepada pencapaian misi, kita tentu serta merta merasa happy dan semakin menikmati hidup ber-misi kita. Dengan misi yang jelas, kita bisa lebih kuat menangkis godaan, apakah itu harta, jabatan dan fasilitas. Misi akan menjadi patokan yang membuat kita jadi lebih jelas dalam mengambil keputusan dan tindakan. Misi dapat dikatakan bagaikan magnet yang menjaga agar kita ‘stay on track’.


(disadur dari kompas,sabtu 13 februari 2010)


20.34




















hari ini sepulang dari ngajar anak les-ku, seperti biasa aku naik bis 83,jurusan grogol teluk gong.
samar-samar ketika naik bis yang sudah lumayan penuh,tiba-tiba terdengar seperti ada alunan gitar yang melantunkan lagu rohani. Tapi kupikir ah...mungkin hanya perasaanku aja,karena aku lirik-lirik kanan kiri ga ada yang sedang memainkan gitar.
setelah bis mau jalan, naiklah 2 orang pengamen.sebenarnya dalam hati sudah agak males kalau ada ngamen-ngamen gini. tapi "berpikir positif sajalah, coba untuk menghargai kehadiran orang lain", kata si sisi baik dalam hati.
aku liat si pengamen ngomong ga jelas, kupandang dari atas ke bawah, tidak ada yang menarik. dan kucoba untuk membaca gerak bibirnya, namun tidak satupun kata-kata yang jelas,karena ketika dia ngomong malah lebih mirip kumur-kumur. Namun alangkah terkejutnya ketika gitar perlahan dipetik. Jreng..."Tinggikan diriMu..mengatasi langit. KebesaranMu Tuhan,mengatasi bumi."
Wow...amazing. ga biasanya ada ngamen yang mau membawakan lagu rohani. Ya yang biasa bernuansa Tuhan gitu deh. Tapi salut, mereka hanya pengamen, namun membawakan lagu rohani dalam pekerjaan mereka, mungkin hal yang bisa mereka lakukan sebaik mungkin. Tanpa harus ada perasaan takut tidak diberi, mereka tetap membawakan lagu itu sampai habis dengan penuh penjiwaan. Diam-diam di dalam hati, aku juga ikut bernyanyi memuliakan Tuhan. Hati yang tadinya kesel sumpek capek, tiba-tiba ada suasana surgawi di dalam bis kota.
Akhirnya setelah membawakan lagu tersebut, beberapa orang memberikan uang termasuk aku. Tadinya sih cuma mau kasih seribu. Tapi aku pikir menolong sesama anak Tuhan apa salahnya, terlepas dari dia bisa menyanyikan lagu rohani bukan berarti dia anak Tuhan bukan? Tapi at least dia sudah mengagungkan nama Tuhan di antara orang-orang yang belum mengenal Dia.
Ya sudahlah aku beri saja tiga ribu. the last money that stay in my bag's pocket.
Well see you again, pengamen rohani. Jangan berhenti memuliakan nama Tuhan dalam pekerjaanmu. Tuhan memberkati


20.23




beberapa hari yang lalu saya sempat makan sore-sore atau lebih tepatnya makan malam di PIK. lokasinya agak dekat dengan fresh market, dan setahu saya tempat ini akan rame menjelang malam. Eh setelah berkeliling saya menemukan sebuah etalase yang menjual DVD film dan saya tertarik untuk menanyakan harga perkeping(FYI:saya maniak film dan koletor)..eh setelah ditanya ternyata...sstttt...harganya sangat terjangkau..@5000 - 10 bonus 2.What ???


03.45






kabar heboh yang sempet bikin aku treak...

pas googling wallpaper liu yi fei(crystal liu), saya menemukan hyperlink liuyifei boyfriends.lalu iseng2 saya dibawa ke halaman ini...tapi sepertinya sih editan photoshop deh...

http://images.google.co.id/imglanding?q=liu%20yi%20fei%20boyfriend&imgurl=http://autopic.sohu.com/auto_images/piclib/zone/attachments/day_060330/9_qhO0RRL2GT4z.jpg&imgrefurl=http://crystalliuyifei.com/forum/viewtopic.php%3Ff%3D3%26t%3D213&usg=__vNuWVx03rRjZhCE9NzclqJcC13g=&h=768&w=949&sz=157&hl=id&um=1&itbs=1&tbnid=uf8DUHasaWekZM:&tbnh=120&tbnw=148&prev=/images%3Fq%3Dliu%2Byi%2Bfei%2Bboyfriend%26hl%3Did%26sa%3DX%26um%3D1&sa=X&um=1&start=0#tbnid=uf8DUHasaWekZM&start=0


lalu ada lagi link kedua...yang hasilnya adalah
http://images.google.co.id/imglanding?q=liu%20yi%20fei%20boyfriend&imgurl=http://autopic.sohu.com/auto_images/piclib/zone/attachments/day_060330/9_qhO0RRL2GT4z.jpg&imgrefurl=http://crystalliuyifei.com/forum/viewtopic.php%3Ff%3D3%26t%3D213&usg=__vNuWVx03rRjZhCE9NzclqJcC13g=&h=768&w=949&sz=157&hl=id&um=1&itbs=1&tbnid=uf8DUHasaWekZM:&tbnh=120&tbnw=148&prev=/images%3Fq%3Dliu%2Byi%2Bfei%2Bboyfriend%26hl%3Did%26sa%3DX%26um%3D1&sa=X&um=1&start=0#tbnid=yZKB-aPzCXjj4M&start=1

tapi yang ini seperti foto asli karena seperti foto paparazzi. Jadi sepertinya perlu bantuan Roy Suryo untuk mengklarifikasi keaslian foto ini.heheheh
Tapi terlepas dari asli atau tidaknya, biarkanlah Liu Yi Fei yang mencari jodohnya sendiri. Kita hanya sebagai fans...cuma bisa berdoa demi kebahagiaan si doi.

Tul ga???heheheh ada-ada aja si widy


03.23